Upaya Mempercepat Distribusi BBM Atasi Antrean Panjang di Bali

Bali – Situasi antrean kendaraan yang mengular terlihat di berbagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali sejak Senin (12/10) lalu. Fenomena ini terjadi akibat kekurangan stok bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu, dengan Pertalite menjadi yang paling terdampak. Akibatnya, terjadi lonjakan permintaan untuk pembelian Pertamax, yang menyebabkan warga berbondong-bondong mengantre di SPBU.

Sejumlah pihak, termasuk Gubernur Bali I Wayan Koster dan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, telah memberikan tanggapan mengenai masalah ini. Keduanya menegaskan bahwa Pertamina tengah menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mempercepat distribusi BBM. Langkah-langkah tersebut mencakup penambahan pasokan serta operasi SPBU selama 24 jam, sebagaimana dikutip dari sumber yang dapat dipercaya.

Antrean kendaraan yang panjang ini terlihat tidak hanya di ibukota provinsi, Denpasar, tetapi juga di Kabupaten Badung. Situasi ini menimbulkan kemacetan yang signifikan di sekitar SPBU, berpotensi mengganggu arus lalu lintas. Dalam menanggapi hal ini, Polsek Denpasar Selatan menerjunkan anggota untuk mengelola situasi dan membantu menjaga ketertiban di lokasi-lokasi antrean.

Gubernur Koster, saat ditemui pada Selasa (13/10), menjelaskan bahwa pasokan BBM di depo, khususnya di Depo Manggis di Kabupaten Karangasem dan Depo Pesanggaran di Denpasar, sebenarnya tersedia. Namun, masalah distribusi dari depo ke SPBU yang terganggu oleh kondisi lalu lintas menyebabkan keterlambatan pasokan ke SPBU. Koster menyatakan, “Pasokannya cukup tersedia di depo, di Manggis dan di Pesanggaran hari ini hadir. Tapi distribusi dari depo ke SPBU sedang berjalan.”

Ia mencatat bahwa kepanikan di kalangan masyarakat mengenai ketersediaan BBM turut mendorong lonjakan permintaan, yang membuat stok di SPBU habis lebih cepat. Oleh karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak panik dan memberikan jaminan bahwa pasokan BBM di Bali akan segera kembali normal dalam satu hingga dua hari ke depan.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Simon Mantiri juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas situasi antrean tersebut. Ia menegaskan bahwa kendala teknis dalam distribusi tidak dapat dijadikan dalih untuk situasi yang terjadi. “Pertama-tama atas nama PT Pertamina Persero, saya selaku direktur utama menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya khususnya bagi warga Bali,” ungkap Simon.

Dia menjelaskan, salah satu faktor yang menyebabkan antrean panjang adalah gangguan teknis pada kapal pengangkut BBM saat proses bongkar muat yang mengakibatkan keterlambatan. Selain itu, adanya peningkatan konsumsi BBM bersubsidi seperti Pertalite karena selisih harga yang signifikan dengan BBM nonsubsidi juga menjadi faktor penyebab lonjakan permintaan.

Untuk mengatasi permasalahan ini, Pertamina menyatakan akan meningkatkan pasokan melalui armada kapal, mempercepat waktu bongkar muat, dan mengoptimalkan distribusi dari terminal ke SPBU. Selain itu, pihaknya juga telah mengoperasikan SPBU strategis 24 jam untuk meringankan antrean.

Gubernur Koster kembali memastikan bahwa stok Pertalite dan Pertamax di Bali dapat memenuhi kebutuhan masyarakat hingga dua pekan ke depan. Dengan adanya pasokan baru yang dijadwalkan tiba, harapannya antrean panjang ini tidak akan terulang kembali. Koster menyatakan, “Pasokan yang datang mencakup 19,2 juta liter Pertalite dan tiga juta liter Pertamax, menjamin pemenuhan kebutuhan masyarakat.” Pemerintah setempat juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk memastikan distribusi berjalan lancar tanpa ada hambatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with