Jakarta – Dalam rangka menghadapi dampak musim kemarau dan potensi gejolak harga pangan, pemerintah Indonesia telah memutuskan untuk menambah program Bantuan Pangan Beras selama periode Juli hingga September 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk kehadiran negara untuk melindungi masyarakat dari kesulitan akibat kenaikan harga.
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa tidak seharusnya rakyat dipersulit dengan lonjakan harga sembako. Dalam pernyataannya setelah Rapat Koordinasi Pangan dengan beberapa menteri terkait, ia menyampaikan, “Indonesia memasuki musim kemarau. Harga sembako tidak boleh naik dan rakyat tidak boleh disulitkan karena gejolak harga. Karena itu pemerintah menambah bantuan pangan agar masyarakat yang paling rentan tetap terlindungi,” sebagaimana dikutip dari sumber terpercaya.
Program ini akan disalurkan mulai Juli 2026, dengan target memberikan 10 kilogram beras per bulan kepada sekitar 33,24 juta penerima bantuan. Diharapkan, langkah ini dapat menyerap sekitar 1 juta ton cadangan beras pemerintah, yang berfungsi sebagai bantalan sosial untuk kelompok masyarakat paling vulnerable agar terlindungi dari dampak fluktuasi harga pangan.
Dalam rapat tersebut, pemerintah juga memutuskan untuk memberikan subsidi sebesar Rp2.000 per kilogram untuk 250.000 ton kedelai, yang merupakan bahan baku penting bagi UMKM. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas harga di sektor UMKM, terutama bagi produk tempe dan tahu, serta konsumen di pasar. Subsidi ini akan diatur lebih lanjut oleh kementerian terkait dan Perum Bulog.
Tak hanya itu, pemerintah pun akan memprioritaskan distribusi Minyakita untuk memenuhi kebutuhan pasar rakyat dan pasar tradisional. Program bantuan sosial tidak lagi akan menggunakan alokasi Minyakita, agar pasokan di pasar tetap terjaga dan harga dapat lebih terkendali, terutama di daerah-daerah yang sering mengalami lonjakan harga karena kendala distribusi.
Dari laporan kementerian dan hasil pengecekan langsung, stok pangan nasional saat ini tergolong cukup. Harga sejumlah komoditas strategis seperti ayam ras dan telur masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET). Namun, kenaikan harga cabai rawit dipengaruhi oleh faktor musim.
Zulkifli Hasan juga menyoroti perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kebutuhan pangan masyarakat, melalui instruksi agar seluruh jajaran pemerintah menjaga harga bahan pokok. “Bapak Presiden menginstruksikan agar kebutuhan sembako rakyat diperhatikan secara serius. Harga sembako tidak boleh memberatkan rakyat dalam situasi apa pun. Negara harus hadir memastikan pasokan tersedia dan harga tetap terjangkau,” ujarnya.
Di tengah ketidakpastian global, stabilitas pangan menjadi prioritas utama. Melalui penguatan stok, bantuan pangan, dukungan untuk pelaku usaha pangan, serta pengawasan distribusi komoditas strategis, pemerintah bertekad untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan kebutuhan pangan dapat tercukupi dengan baik.
