Gerakan Terpadu Tangani Masalah Sampah di Bekasi Menuju Lingkungan Sehat

Bekasi – Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau akrab disapa Zulhas, menekankan pentingnya upaya terpadu dalam menangani permasalahan sampah di Bekasi, mulai dari hulu hingga hilir. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan perlunya gerakan memilah sampah dari rumah, pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), dan penerapan teknologi pirolisis untuk mengatasi timbunan sampah yang ada. Hal tersebut perlu segera diimplementasikan mengingat Kota Bekasi sudah berada dalam keadaan darurat sampah dengan timbunan mencapai sekitar 1.800 ton per hari.

“Kita harus segera menyelesaikan persoalan ini. Kita koordinasikan agar semua bergerak cepat, tidak boleh lagi masyarakat hidup dalam lingkungan yang tercemar udara, tanah, dan air akibat sampah yang tidak terkelola,” ungkap Zulhas dalam kunjungannya ke Bekasi baru-baru ini.

Pembangunan PSEL di Bekasi dinilai sebagai langkah konkret dalam mengatasi permasalahan sampah perkotaan. Target dari PSEL ini adalah mampu mengolah sekitar 1.500 ton sampah per hari, yang berkontribusi pada pengurangan emisi. Menurut Zulhas, pengolahan sampah ini akan menurunkan emisi dari tempat pembuangan akhir (TPA) hingga 80 persen, serta menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja baru. “Jadi PSEL Bekasi ini mendatangkan 4 manfaat yaitu pengelolaan sampah, menghasilkan energi hijau, mengurangi emisi, dan menggerakkan ekonomi lokal,” jelasnya.

Pembangunan PSEL di Kota Bekasi merupakan bagian dari rencana lebih besar pemerintah yang mencakup total 13 lokasi PSEL baru, termasuk di Palembang yang diharapkan mulai beroperasi pada Oktober 2026. Walaupun PSEL diharapkan dapat memberikan solusi, Zulhas mengingatkan bahwa ini bukanlah solusi tunggal. “Sekalipun semua PSEL tersebut beroperasi, kapasitasnya hanya mampu menangani sekitar 22,5 persen dari total timbunan sampah. Oleh karena itu, pengurangan dan pemilahan sampah dari sumber, serta penggunaan berbagai teknologi pengolahan harus tetap menjadi fokus utama,” tegasnya.

Dari sudut pandang yang lebih holistik, Zulhas menyoroti betapa pentingnya pemilahan sampah di tingkat awal. “Memilah sampah sejak dari sumbernya merupakan langkah sederhana namun sangat penting. Jika pemilahan dilakukan secara konsisten, volume sampah yang diangkut ke TPA akan jauh berkurang,” ujarnya.

Kementerian Koordinator Bidang Pangan juga menginisiasi solusi untuk mengatasi timbunan sampah lama di TPA melalui teknologi pirolisis. Teknis ini dinilai efektif dalam mengubah sampah lama menjadi sumber energi baru seperti BBM terbarukan setara solar. Dengan pelaksanaan yang tepat, teknologi pirolisis diyakini dapat mengurangi sekitar 20 persen dari total timbunan sampah.

Melalui berbagai pendekatan yang terintegrasi, pemerintah mengharapkan bahwa solusi terhadap persoalan sampah di Bekasi dapat menjadi contoh bagi daerah lain. Upaya ini diharapkan tidak hanya dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kegiatan ini sejalan dengan inisiatif pemerintah untuk mengembangkan pengelolaan sampah yang lebih efektif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia, seperti yang dikutip dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with