Optimalisasi Aset BUMN: Langkah Strategis Menuju Efisiensi dan Produktivitas

Jakarta – CEO Badan Pengelola Investasi (BPI), Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menggariskan beberapa langkah strategis yang akan diambil untuk melanjutkan program perampingan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada tahun 2027 mendatang. Dalam sebuah pernyataan yang ditujukan kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rosan menyatakan bahwa langkah ini merupakan kelanjutan dari konsolidasi BUMN yang sedang berjalan.

Mengutip dari laporan sebelumnya, Rosan menekankan komitmennya untuk melakukan optimalisasi aset BUMN, meningkatkan produktivitas dan efisiensi, serta membuka peluang kerjasama yang lebih luas dengan sektor swasta. Program perampingan yang telah dimulai saat ini akan dilanjutkan dengan mendorong peningkatan optimalisasi aset dan produktivitas perusahaan-perusahaan pelat merah di Indonesia.

“Tadi (dengan Pak Presiden Prabowo Subianto) bicara bagaimana kita meningkatkan, kan kita program streamlining kita di BUMN ini kan berjalan. Bagaimana kita sekarang next step-nya itu di 2027, 2027 awal itu meningkatkan, ya sekarang kita juga sedang melakukan optimalisasi aset-aset BUMN, kemudian juga meningkatkan produktivitas, meningkatkan efisiensi, termasuk juga kita membuka untuk kerja sama yang lebih luas kepada sektor swasta,” ungkap Rosan.

Dalam pandangan Rosan, kolaborasi dengan sektor swasta sangat dibutuhkan, terutama pada kegiatan yang lebih efektif dikerjakan oleh dunia usaha. Ia menggarisbawahi bahwa BUMN tidak harus mengerjakan semua kegiatan secara mandiri, terutama apabila ada sektor swasta yang memiliki kapasitas dan keahlian untuk melakukannya. “Kalau memang yang sudah bagus, sudah bisa dikerjakan oleh private sector, ya silakan, kita dukung,” tegasnya.

Dengan begitu, langkah ini menjadi bagian dari tahapan lanjutan konsolidasi BUMN yang tengah dilaksanakan oleh Danantara. Setelah konsolidasi, fokus selanjutnya adalah optimalisasi aset yang dimiliki oleh perusahaan pelat merah. Rosan menjelaskan bahwa BUMN memiliki aset yang sangat besar, tetapi belum sepenuhnya sebanding dengan arus kas dan pendapatan yang dihasilkan, yang membuat optimalisasi aset menjadi krusial.

“Bersama-sama dengan private sector, pokoknya intinya supaya BUMN ini lebih produktivitasnya lebih meningkat dan efisiensinya lebih meningkat. Kan aset-aset BUMN juga sangat banyak, ya. Ini mungkin in terms of aset kita besar, gitu. Tapi in terms of cash flow-nya, pendapatannya mungkin berbanding asetnya masih sangat kecil,” sambung Rosan.

Presiden Prabowo, menurut Rosan, telah memberikan arahan agar optimasi aset dilakukan dengan perencanaan yang baik, terukur, dan terstruktur. Sebagai sovereign wealth fund, Danantara juga mempertimbangkan yield dari pengelolaan aset yang dilaksanakan. Namun, Rosan menekankan bahwa hingga saat ini, Danantara belum menentukan sektor tertentu yang akan menjadi fokus awal optimalisasi, dan seluruh aset akan dianalisis terlebih dahulu untuk menentukan strategi pengelolaan yang paling sesuai.

“Kita lihat, kita akan analisa semua, apakah itu baik di jalan tol, di airport, kemudian di oil and gas, bandara, airport, pelabuhan, nanti kita analisa semua,” ujarnya.

Program ini menjadi kelanjutan dari upaya konsolidasi BUMN yang telah dilakukan Danantara, yang sebelumnya telah mengonsolidasikan sebanyak 258 dari total sekitar 1.077 entitas BUMN, dengan target untuk mengonsolidasikan hingga sekitar 300 entitas lebih lanjut. Pemerintah juga memproyeksikan untuk memangkas jumlah BUMN menjadi sekitar 250 perusahaan pada tahun ini, dengan tujuan memperbaiki efisiensi, transparansi, dan memberikan manfaat praktis bagi masyarakat. Upaya ini juga tergambar dalam penutupan lebih dari 200 BUMN yang telah dilakukan pemerintah untuk merampingkan struktur dan mengurangi biaya operasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with