Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menggaet potensi ekonomi digital mencapai antara US$400 miliar hingga US$600 miliar dalam kerangka pertumbuhan ekonomi digital di kawasan ASEAN. Jika dikonversi ke dalam rupiah, potensi nilai tersebut setara dengan sekitar Rp7.200 triliun hingga Rp10.800 triliun dengan asumsi nilai tukar Rp18.006 per dolar AS. Pernyataan ini disampaikan oleh Airlangga dalam sebuah acara bertajuk Green Economy 2045, pada Selasa (29/9). Ia menegaskan bahwa rencana penandatanganan ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA) yang akan berlangsung pada bulan November mendatang di Manila, Filipina, menjadi langkah penting bagi peningkatan ekonomi digital di seluruh kawasan.
“Kalau digital economic ini bisa ditandatangani, maka demand sektor digital di ASEAN itu akan meningkat dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun,” ujar Airlangga. Berdasarkan analisisnya, Indonesia berkontribusi sekitar 40 persen terhadap total ekonomi ASEAN, sehingga peningkatan permintaan di sektor digital diharapkan akan membuka nilai ekonomi yang signifikan bagi negara ini hingga tahun 2030.
Dalam konteks tersebut, Airlangga juga menyoroti pentingnya pengembangan infrastruktur pendukung, khususnya data center, yang semakin diakui sebagai industri strategis dalam beberapa tahun ke depan. Ia mengungkapkan bahwa semua negara saat ini tengah bersaing mengembangkan sektor ini, mengingat kebutuhan yang terus meningkat seiring dengan perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) dan digitalisasi.
Menurutnya, Indonesia sudah mulai menunjukkan kemajuan di sektor ini, dengan contoh konkret berupa pengembangan kawasan digital park yang saat ini tengah diperluas. “Pada fase pertama, salah satu kawasan tersebut sudah habis terjual dan kini proses ekspansinya sedang berjalan,” terang Airlangga, sembari merujuk pada perkembangan yang semakin pesat di daerah Karawang dan Bekasi.
Airlangga melanjutkan bahwa peluang pertumbuhan ekonomi digital ini perlu diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM). Dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor ini, pemerintah terus mendorong pelatihan bagi SDM. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan kerja sama dengan ARM dari Inggris, khususnya dalam pengembangan SDM di bidang semikonduktor. “Keberadaan SDM selalu menjadi penting untuk energi hijau dan digitalisasi,” tambahnnya.
Lebih jauh lagi, Airlangga menekankan bahwa perkembangan ekonomi digital di ASEAN adalah bagian dari strategi pemerintah untuk mendorong transformasi ekonomi Indonesia. Ia menyatakan bahwa pengembangan sektor digital dan ekonomi hijau saling berkaitan dan akan mendukung pertumbuhan ekonomi ke depan.
Melalui pernyataan dan usulannya tersebut, Airlangga menggarisbawahi komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek menyeluruh yang mencakup SDM dan infrastruktur guna menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi Indonesia di era digital ini.
