Bandara di Papua Terdampak Asap Karhutla, Keamanan Penerbangan Diutamakan

Papua – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mengganggu operasional penerbangan di 16 bandar udara yang tersebar di wilayah ini. Menurut laporan dari Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah X, sejumlah bandara yang terpengaruh termasuk Bandar Udara Sentani di Provinsi Papua, dan Bandar Udara Mozes Kilangin di Timika. Bandara lainnya yang juga terdampak adalah Bandar Udara Ilaga dan Bandar Udara Ilu yang berada di Papua Tengah.

Di kawasan Papua Pegunungan, situasi yang sama terjadi di Bandar Udara Wamena, Bandar Udara Oksibil, serta Bandar Udara Dekai. Bandara-bandara di Provinsi Papua Selatan juga tidak luput dari dampak kabut asap, termasuk sembilan bandara seperti Bandar Udara Mopah di Merauke, hingga Bandar Udara Mindiptanah. Dengan kondisi kabut asap yang cukup parah, jarak pandang di sekitar bandara menurun, berpotensi menyebabkan keterlambatan, penundaan, dan pembatalan penerbangan. Oleh karena itu, keputusan operasional harus tetap mengutamakan keselamatan, sebagaimana dikutip dari Antara.

Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) telah mengintensifkan pemantauan situasi karhutla dan implikasinya terhadap transportasi udara di berbagai daerah, termasuk Papua. Langkah ini diambil bersama beberapa instansi terkait guna memitigasi efek kabut asap terhadap kegiatan penerbangan. Lukman F Laisa, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub, menegaskan bahwa koordinasi terus dilakukan melalui berbagai Kantor Otoritas Bandar Udara dan juga dengan pengelola bandara, AirNav Indonesia, dan maskapai.

“Koordinasi ini dilakukan untuk memantau perkembangan situasi di masing-masing wilayah dan memastikan keselamatan serta keamanan penerbangan tetap menjadi prioritas,” ungkap Lukman dalam keterangannya di Jakarta, baru-baru ini.

Tercatat bahwa secara nasional, Kemenhub melaporkan bahwa sejak 11 Agustus hingga 13 Oktober 2026, terdapat 2.021 penerbangan berjadwal domestik yang terdampak karhutla. Dari total tersebut, 919 penerbangan mengalami keterlambatan, sementara 1.067 penerbangan telah dibatalkan atau ditunda. Selain itu, 18 penerbangan terpaksa dialihkan, enam penerbangan kembali ke bandara asal, dan 11 lainnya dimajukan jadwalnya.

Dampak dari kabut asap ini juga merembet ke penerbangan internasional. Sebanyak 12 penerbangan berjadwal rute Singapura-Pontianak dibatalkan selama periode 12-23 September 2026 karena kondisi bandara Supadio di Pontianak yang tidak memungkinkan untuk melakukan pendaratan dengan aman.

Selain karhutla, Kemenhub juga mencatat terdapat 18 penerbangan domestik yang dibatalkan dalam periode yang sama karena sejumlah faktor lain, seperti sebaran abu vulkanik dari Gunung Lewotolok dan Gunung Dukono, cuaca buruk, serta angin kencang.

Dalam upaya penanganan karhutla, pemerintah telah melaksanakan operasi pemadaman melalui udara atau water bombing, dengan total 5.035 siklus penerbangan yang dilakukan oleh 38 pesawat selama periode 20 April hingga 12 Oktober 2026.

Kemenhub mengimbau kepada masyarakat dan penumpang untuk tetap tenang jika ada penyesuaian jadwal penerbangan akibat kabut asap. Penumpang juga disarankan untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan untuk terus memantau perkembangan cuaca serta berita dari maskapai masing-masing sebelum berangkat ke bandara. “Direktorat Jenderal Perhubungan Udara akan menyampaikan informasi lebih lanjut sesuai dengan perkembangan situasi,” tambah Lukman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share with