Jakarta – Dalam sebuah penghargaan yang menggembirakan, Jakarta dinobatkan sebagai kota ke-15 dengan sistem transportasi publik terbaik di dunia oleh para penggunanya. Hasil ini diungkapkan dalam survei yang dilakukan oleh majalah perjalanan Time Out, di mana Jakarta mendapatkan skor 79,2 persen. Survei ini melibatkan 24 ribu responden dari berbagai belahan dunia pada tahun 2026, dan mereka diminta untuk menilai sistem transportasi umum di kota masing-masing menggunakan skala 1 hingga 5, mulai dari “sangat buruk” hingga “sangat baik”. Dengan skor tersebut, Jakarta mencerminkan penilaian positif dari warganya terhadap kondisinya, di mana MRT Jakarta berperan dalam pencapaian ini.
Dilansir dari sumber yang sama, sepanjang bulan September 2026, sekitar 4,42 juta penumpang menggunakan layanan MRT Jakarta. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan dibandingkan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada bulan Agustus 2026 yang mencatat 4,06 juta penumpang. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin memanfaatkan moda transportasi ini.
Banyak pengguna MRT Jakarta mengungkapkan kepuasan mereka terhadap fasilitas dan kondisi yang disediakan. Salah satunya adalah Marwah Purnama Sari (35), yang menyatakan bahwa pengalaman menggunakan MRT seolah-olah berada di luar negeri, mengingat suasana yang bersih dan tertib. “Naik MRT Jakarta berasa lagi liburan di luar negeri,” ungkapnya. Sementara itu, Mohammad Ilham (30), seorang karyawan perbankan yang juga merupakan pengguna setia MRT, menekankan bagaimana moda ini sangat membantu dalam menikmati perjalanan di ibukota. Ia berpendapat bahwa MRT menawarkan kenyamanan dan ketepatan waktu yang sangat diperlukan.
Djoko Setijowarno, Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), menilai bahwa fasilitas yang disediakan MRT Jakarta layak dipersepsikan setara dengan transportasi publik di negara maju. Ia juga mencatat bahwa orang Indonesia cenderung lebih tertib dan menjaga kebersihan dibandingkan dengan pengguna transportasi di negara lain. “Kita enggak kalah. Bahkan ada tempat sholat, yang mungkin tidak ditemukan di negara lain,” ujarnya.
Meskipun pencapaian ini menunjukkan kemajuan yang signifikan, Djoko juga mengingatkan bahwa tantangan masih ada. Ia menyoroti bahwa panjang rute MRT Jakarta hingga saat ini baru mencapai 15,7 kilometer, yang masih jauh dibandingkan dengan jaringan MRT Singapura yang membentang hingga 245,2 kilometer. Dengan sekitar 4 juta penduduk dari wilayah Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Bodetabek) yang setiap harinya beraktivitas di Jakarta, kebutuhan akan transportasi publik yang memadai masih sangat besar.
Ilham merasa bahwa kehadiran MRT baru terjadi beberapa tahun terakhir dan beranggapan bahwa Indonesia memiliki potensi untuk menawarkan transportasi publik yang lebih baik. Dia mengungkapkan bahwa setelah adanya MRT, banyak orang beranggapan bahwa Indonesia seharusnya memiliki infrastruktur transportasi yang lebih baik sejak dulu. Dia optimis bahwa kualitas transportasi umum di Tanah Air dapat bersaing di tingkat global.
Marwah dan Ilham sama-sama berharap bahwa perkembangan MRT Jakarta akan diikuti dengan perbaikan pada moda transportasi lainnya, dan bahwa pemerintah akan terus mendukung pengembangan infrastruktur transportasi di Indonesia. Dalam laporan tahunan MRT, diharapkan pengembangan rute baru akan dapat tuntas tepat waktu, termasuk jaringan yang menghubungkan Karang Tengah, Tangerang, hingga Cikarang, Bekasi.
Kehadiran MRT Jakarta diyakini dapat memberikan dampak positif yang besar terhadap wajah transportasi di Indonesia dan meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta. Dengan perluasan yang diharapkan di masa depan serta dukungan yang berkelanjutan, Jaakarta bisa menjadi contoh yang membanggakan di kancah internasional.
