Tangerang – Menteri Perdagangan, Budi Santoso, menunjukkan rasa optimisnya mengenai nilai transaksi Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 yang ditargetkan mencapai US$17,5 miliar atau sekitar Rp313,77 triliun, berdasarkan nilai tukar Rp17.930 per dolar AS. Optimisme ini timbul setelah pameran pada hari pertama berhasil mencatatkan 168 kontrak dagang atau nota kesepahaman (MoU) yang totalnya mencapai US$13,2 miliar, atau setara dengan Rp236,64 triliun.
Sebagaimana dikutip dari berbagai sumber, Budi menjelaskan bahwa nilai tersebut masih bersifat preliminer dan berasal dari MoU yang ditandatangani antara eksportir Indonesia dan para pembeli dari berbagai negara. Dia menambahkan bahwa pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengejar lebih banyak transaksi selama pameran yang diselenggarakan dari tanggal 14 hingga 18 Oktober 2026.
“Dari target total transaksi selama lima hari ini, saya yakin kita dapat mencapai angka US$17,5 miliar. Pada hari pertama saja sudah tercipta transaksi yang cukup baik,” ungkap Budi saat acara TEI ke-41 di ICE BSD, Tangerang, pada Kamis (15/10).
Budi juga memaparkan bahwa pencapaian MoU yang dihasilkan akan terus berkembang, mengingat TEI masih berlangsung. Budi mengajak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menggunakan momen ini sebagai sarana untuk memperluas pasar dan meningkatkan penjualan produk mereka. Beberapa pelaku UMKM yang ambil bagian dalam pameran ternyata sudah berhasil mendapatkan transaksi.
Pemerintah juga menyediakan fasilitas business matching yang bertujuan untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli. Langkah ini dilakukan melalui kerjasama dengan banyak pihak, termasuk Meta Indonesia, yang berfokus membantu UMKM dalam proses pemasaran melalui teknologi digital.
“Bapak dan Ibu (pelaku UMKM) harus memanfaatkan era digital ini dengan sebaik-baiknya. Saat ini merupakan era ‘discovery commerce,’ sehingga produk Anda dapat lebih mudah ditemukan konsumen,” tambah Budi.
Tidak hanya berfokus pada pasar ekspor, pemerintah juga berusaha untuk membantu UMKM dalam menjaga dan mengembangkan pemasaran di pasar domestik. Salah satu strategi yang diadopsi adalah menjalin kemitraan dengan ritel modern dan minimarket, agar produk-produk UMKM bisa lebih mudah dijangkau oleh konsumen luas.
“Pemerintah mengejar pasar ekspor dan juga domestik. Kita melakukan kemitraan dengan ritel modern, minimarket, serta bentuk kerjasama lainnya. Dengan demikian, kesempatan Anda untuk masuk ke pasar dalam negeri akan semakin besar,” tegas Budi.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, juga menyampaikan harapan agar nilai transaksi TEI 2026 dapat melebihi target yang ditetapkan. Bahlil mengingatkan pentingnya untuk memangkas prosedur teknis yang dianggap menghambat ekspor sehingga produk Indonesia lebih mudah untuk diterima di pasar internasional.
Target transaksi TEI tahun ini sedikit lebih rendah jika dibandingkan dengan realisasi tahun lalu, di mana pada 2025 pemerintah menargetkan transaksi melebihi US$16 miliar, namun realisasinya mencapai US$22,8 miliar. Berdasarkan data dari Kementerian Perdagangan, TEI 2026 diharapkan dihadiri oleh 16.885 calon pembeli terdaftar, termasuk 8.092 dari luar negeri yang mewakili 134 negara. Pameran tahun ini juga menargetkan akan ada 1.873 peserta pameran serta 30 ribu pengunjung.
