Purwakarta – Kemajuan dalam bidang kecerdasan buatan (AI) semakin meningkatkan permintaan terhadap pusat data (data center) di berbagai belahan dunia. Namun, terlepas dari peluang yang ditawarkan oleh transformasi digital, Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang signifikan.
Operasional pusat data membutuhkan pasokan air dan listrik yang melimpah, terlebih bagi fasilitas yang mengandalkan sistem pendinginan berbasis penguapan. Tanpa pengelolaan yang tepat, permintaan terhadap sumber daya ini dapat memberikan tambahan beban pada pasokan air yang juga sangat dibutuhkan masyarakat.
Salah satu contoh nyata dari tantangan ini terlihat pada proyek data center senilai Rp3,5 triliun yang dikelola oleh BDx Data Centers di Jati Luhut, Purwakarta, Jawa Barat. Proyek ini terpaksa dihentikan sementara akibat permasalahan perizinan dan kekhawatiran terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan.
“Potensi dampak ekologis yang perlu dikaji antara lain terkait penggunaan air untuk sistem pendinginan, kebutuhan energi yang besar, karakteristik air limbah, dan dampak terhadap masyarakat yang bergantung pada sumber daya air yang sama,” ungkap Mariana Marselina, seorang ahli teknologi pengelolaan lingkungan dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung. Ia menekankan pentingnya kajian mendalam untuk memastikan bahwa kebutuhan air pusat data tidak mengganggu alokasi air bagi masyarakat dan sektor lainnya, terutama di musim kemarau.
Perhatian terhadap konsumsi air di pusat data bukanlah isu terbatas di Indonesia. Secara global, sebuah studi dari Environmental and Energy Study Institute (EESI) pada tahun 2025 menunjukkan bahwa sejumlah pusat data dapat menggunakan hingga 5 juta galon air setiap hari. Angka tersebut setara dengan kebutuhan air rata-rata 10 hingga 50 ribu orang. Di Amerika Serikat, laporan menyebut pusat data menghabiskan sekitar 449 juta galon air per hari.
Namun, konsumsi air ini bervariasi antar fasilitas, tergantung pada ukuran, lokasi, iklim, dan teknologi pendinginan. Dalam sistem pendingin evaporatif, sebagian besar air akan menguap untuk membuang panas dari perangkat, dengan sekitar 80 persen air yang diambil biasanya hilang dalam proses ini.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah melihat pengembangan pusat data sebagai bagian integral dari industri digital dan kecerdasan buatan. Namun, ketersediaan infrastruktur juga harus dipersiapkan dengan baik.
Airlangga menegaskan ketersediaan lahan, listrik, dan pasokan air menjadi syarat mutlak untuk menjadikan Indonesia sebagai basis industri data center. “Kuncinya adalah ketersediaan lahan, ketersediaan listrik, dan ketersediaan air,” ujarnya.
Tak hanya itu, pengembangan kawasan ekonomi khusus di Bintan, Kepulauan Riau, dan Karawang, Jawa Barat, juga diharapkan dapat menarik investasi ke sektor ini. Meski demikian, hanya sekadar menyiapkan lahan dan kapasitas listrik saja tidak cukup; pengelolaan air yang sustainable juga menjadi faktor penentu kesinambungan operasional data center.
Dalam konteks regulasi, pengembang data center diharapkan mematuhi ketentuan lingkungan yang berlaku, demi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan industri dan kesehatan ekosistem. Hal ini termasuk menerapkan teknologi efisien dan mempertimbangkan daya dukung lingkungan secara keseluruhan.
Oleh karena itu, keterlibatan berbagai pihak dalam mempertimbangkan aspek lingkungan dalam pengembangan pusat data sangat penting. Dengan melakukan analisis mendalam terhadap kebutuhan air dan energi, harapannya proyek pengembangan tidak hanya memproduksi keuntungan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan.
