Jakarta – Dalam sebuah acara bertajuk Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 yang diselenggarakan pada Selasa, 6 Oktober, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, dengan tegas membantah narasi negatif yang belakangan ini beredar di media sosial, yakni predikat “Indonesia Gelap”. Pernyataan tersebut diungkapkan di hadapan sejumlah investor global yang hadir dalam forum tersebut.
Hashim menilai, narasi “Indonesia Gelap” muncul sebagai gambaran pesimistis yang menggambarkan kondisi Indonesia sebagai bangsa yang tengah mengalami kesulitan. Meski demikian, kehadiran para investor di forum tersebut menunjukkan sebagai bukti bahwa pandangan tersebut tidak sepenuhnya akurat. “Menurut saya, Indonesia terang. Indonesia memiliki masa depan yang cerah, banyak alasan untuk optimis,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Hashim menjelaskan bahwa Indonesia tetap terbuka untuk para investor dari seluruh dunia sambil berpegang pada prinsip tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain. Ia percaya, ketidaklibatan Indonesia dalam konflik global memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi. “Kepala Negara kita, kepala pemerintahan kita, adalah teman bagi setiap kepala pemerintahan di dunia. Itu adalah indikasi yang baik bagi kita,” ujar Hashim.
“Dari sudut pandang investasi, Anda beruntung dapat berinvestasi di negara yang tidak memiliki musuh. Kami sangat terbuka dan selalu mencari teman,” tambahnya. Dalam sesi yang sama, Hashim mengutip pandangan Presiden Prabowo Subianto mengenai prinsip diplomasi yang mendasari posisi Indonesia di kancah internasional, yaitu “1.000 teman masih terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”.
Prinsip tersebut bukan hanya menjadi pegangan dalam kebijakan luar negeri, tetapi juga merupakan warisan berharga dari para pendiri bangsa. Hashim dengan bangga menyebutkan bahwa kakeknya merupakan salah satu dari sekian banyak tokoh yang menyusun dasar-dasar bangsa Indonesia. “Kakek saya adalah salah satu dari 60 bapak pendiri bangsa,” ungkapnya.
Hashim menekankan bahwa warisan para pendiri bangsa berhasil menetapkan identitas Indonesia sebagai negara yang mengedepankan perdamaian. Identitas ini diharapkan dapat berfungsi sebagai daya tarik bagi para investor dari seluruh belahan dunia. Dengan semua ini, Hashim menyimpulkan bahwa kehadiran investor di acara tersebut menunjukkan antusiasme dan kepercayaan terhadap masa depan Indonesia, menjadikannya sebagai destinasi potensial bagi investasi global.
Sebagai penutup, acara IISF 2026 ini bukan sekadar sebuah forum, namun lebih dari itu, merupakan simbol harapan dan kendali untuk menjadikan Indonesia memimpin dalam isu keberlanjutan di masa depan. Dengan berbagai pandangan positif yang disampaikan oleh Hashim, diharapkan bisa menginspirasi lebih banyak pemangku kepentingan untuk ikut berkolaborasi demi kemajuan bangsa.
Sumber: dikutip dari informasi terbaru.
