Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indonesia mengalami surplus neraca perdagangan sebesar US$ 3,55 miliar pada bulan Agustus 2026. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus ini terutama didorong oleh komoditas nonmigas yang mencatat surplus hingga US$ 6,09 miliar.
Ateng Hartono dalam konferensi pers yang berlangsung pada hari Kamis (1/10) mengatakan, “Adapun untuk komoditas penyumbang surplus pada nonmigas, ini terutama dari lemak dan minyak hewani atau nabati, kemudian dari bahan bakar mineral, dan juga dari besi dan baja.” Ia menambahkan bahwa meskipun kinerja ekspor menunjukkan hasil yang positif, sektor migas justru mengalami defisit sebesar US$ 2,54 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari hasil minyak dan minyak mentah.
Surplus yang terjadi pada neraca perdagangan bulan Agustus ini dipicu oleh kinerja ekspor yang mencapai US$ 26,61 miliar, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan angka impor yang tercatat sebesar US$ 23,05 miliar. Jika dilihat lebih lanjut, ekspor Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan dengan kenaikan mencapai 6,72 persen year on year (yoy), dibandingkan dengan Agustus 2025 yang hanya mencapai US$ 24,94 miliar.
Namun, tidak semua sektor menunjukkan hasil yang baik. Ekspor migas tercatat mengalami penurunan sebesar 5,10 persen yoy, dari US$ 1,05 miliar menjadi US$ 990 juta. Di sisi lain, ekspor nonmigas mengalami pertumbuhan positif dengan angka peningkatan mencapai 7,23 persen yoy, yang naik dari US$ 23,89 miliar menjadi US$ 25,62 miliar pada bulan Agustus 2026.
Menganalisis lebih dalam berdasarkan sektor, ekspor nonmigas dari industri pengolahan mencapai US$ 22,29 miliar, yang mencerminkan kenaikan sebesar 12,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, di angka US$ 19,82 miliar. Sementara itu, sektor pertambangan dan lainnya tercatat menurun dengan angka yang mencapai US$ 2,79 miliar, turun 19,47 persen dari angka tahun sebelumnya yang sebesar US$ 3,47 miliar. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga menunjukkan penurunan, yang tercatat di angka US$ 530 juta, turun 11,64 persen dibandingkan dengan Agustus 2025 yang mencapai US$ 600 juta.
Di sisi impor, Indonesia mencatat angka sebesar US$ 23,06 miliar untuk bulan Agustus 2026, mengalami kenaikan sebesar 19,09 persen yoy. Rincian dari impor menunjukkan bahwa total migas mencapai US$ 3,53 miliar, mengalami lonjakan sebesar 30,73 persen, sedangkan nonmigas tercatat sebesar US$ 19,53 miliar, naik 17,20 persen yoy. Jika disegmentasikan berdasarkan jenis barang, impor barang konsumsi tercatat sebesar US$ 2,10 miliar, bahan baku/penolong sebesar US$ 16,67 miliar, dan barang modal dengan angka US$ 4,28 miliar, yang semuanya menunjukkan pertumbuhan positif.
Seiring dengan kondisi perekonomian yang kian dinamis, neraca perdagangan Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang mungkin memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
